Setiap orang terlahir istimewa, kita semua memiliki keistimewaan yang berbeda, keistimewaan itu berupa perbedaan potensi atau bakat yang membuat orang menjadi unik

Artikel

TATKALA DUNIA MASIH MEMPERTAHANKAN RAKYAT-RAKYAT KECIL

Kala anggota DPR tengah menikmati kekayaannya dan melupakan, bahkan menganggap tidak ada   rakyat kecil yang perlu dibantu. Ya, itulah kenyataan yang terjadi di Negara kita. Permainan setrategi yang dilakoni di dunia DPR mampu membuat kita tercengang akan kenyataan yang memang benar-benar terjadi. Berbeda dengan dunia rakyat-rakyat kecil yang sekarang identik dengan sifat hematnya. Meski begitu, mereka tetap mampu melawan kejamnya kehidupan.

Kehidupan rakyat-rakyat kecil tidak seperti kehidupan para anggota DPR yang selalu digandrungi oleh harta-harta yang melimpah. Mereka lebih cenderung memikirkan bagaimana mereka bisa makan. Selain itu, tak jarang juga dari mereka yang berhasil menyekolahkan buah hati mereka ke jenjang yang tinggi. Salah satu contohnya, Andrea Hirata Seman Said Harun yang biasa kita kenal sebagai penulis best seller, buah hati dari Seman Said Harunayah dan NA Masturah, ia dilahirkan di sebuah desa miskin yang letaknya di plosok pulau Belitung. Meski begitu, semangatnya terus berkobar dan tak pernah hilang. Dan masih banyak lagi rakyat-rakyat kecil yang berjuang tanpa harus menghambur-hamburkan harta mereka layaknya para anggota DPR (mungkin).

Begitu banyak kontraversi yang terjadi. Tak hanya satu. Kasus Melinda belum usai, disusul kasus Gayus Tambunan, lalu kasus Angelina Sondack yang membuat Negara kita berantakan dengan ulah-ulah mereka. Dongeng-dongeng tentang kisah korupsi dan suap menyuap tak asing lagi ditelinga kita. Setelah ini, sandiwara dan lakon apa lagi yang bakal mereka lakukan?.

Rakyat-rakyat kecil yang menuai kehidupannya dengan penuh harapan harusnya menjadi cerminan untuk kehidupan para anggota DPR maupun bagi kehidupan kita sendiri. Karena, ketika mereka hendak membelanjakan harta mereka, maka mereka akan berfikir dua kali.

Tidak sedikit kasus-kasus yang kita temui seperti hal diatas. Dari dulu sampai sekarang, kasus-kasus tindak korupsi seperti menjadi penghias dalam kehidupan yang kita jalani. Lalu bagaimana dengan rakyat-rakyat kecil yang juga ikut mendominasi kehidupan di Negara kita, Negara Indonesia?. Tak pernahkah mereka berfikir tentang generasi bangsa kita yang tak hanya terlahir dari kaum-kaum atas, melainkan juga terlahir dari kaum-kaum kecil.?

Yang menarik dari sini adalah kisah-kisah rakyat kecil yang berjuang demi mencukupi kehidupan mereka, dan tak sedikit dari mereka (mungkin) yang berhasil dengan perjuang mereka.

Mengetahui hal tersebut,lihatlah di sekeliling anda. Pada kenyataan yang ada, inilah salah satu kisah rakyat kecil, yakni seorang penjual lontong di sekolah dasar yang berjualan dari tahun 1950-an yang sampai sekarang masih berjualan makanan ringan dan sampai sekarang juga masih bisa bertahan hidup dengan perjuangannya.

Menurutnya keuntungan yang didapat tidak cukup untuk makan sehari-hari. Ketika kuotanya berapa rata-rata, ia menjawab sekitar lima belas sampai dua puluh ribu. Uang sebesar itu musti dicukupkan untuk makan sebanyak 7 nyawa. Dan hebatnya lagi, itu adalah sumber penghasilan utama!. Ibu itu bercerita suaminya bekerja sebagai tukang kayu. Dengan berbekal kardus sebagai tempat dagangannya, ia membawa sendiri menuju ke sekolah dasar. Dan ketika pulang sekolah juga ia membawa pulang dagangannya dengan susah payah untukk dijual di rumah. Sekarang ia sudah mencapai usia 75 tahun, tapi ia masih berjualan.

Pasti anda semua bisa membayangkan, orang setua itu bersusah payah mencari uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Betapa beratnya perjuangan rakyat kecil untuk mendapatkan sesuap makanan.
Dengan adanya fenomena-fenomena diatas, diharapkan indonesia mampu memberantas kemiskinan yang menjadi bagian dari tubuh Negara Indonesia sendiri. Pemberantasan ini diharapkan tidak hanya di daerah perkotaan saja. Namun juga di daerah-daerah terpencil yang kemungkinan besar terdapat rakyat-rakyat kecil yang masih dalam perjuangannya untuk sesuap nasi.


RAKYAT KECIL YANG TERMARJINALKAN

Indonesia, inilah nama negeri yang kita tinggali, negeri warisan kerajaan hindhu-buddha terutama majapahit, dengan berbagai ras suku dan kekayaan alam, yang seringkali menjadi bahan perdebatan serta perebutan dengan negeri tetangga. .tak luput pula problem dalam negeri ikut juga menjadi sorotan, perseteruan antara militer dan warga sipil, selalu menjadi akar masalah yang berlarut-larut, belum lagi masalah perbedaan agama yang selalu tak menemui titik terang yang seterang-terangnya.
Masih jelas teringat, peristiwa ploso, Sulawesi yang menewaskan beribu-ribu jiwa dari dua golongan agama yang berbeda, memang permasalahn kecil yang  menjadi penyebab meluasnya masalah, hanya gara-gara seutas tali persaudaraan yang terputus karena perselisihan kecil. Selain itu juga, tak lekang oleh waktu, beberapa dari sekian hari yang lalu, peristiwa kebumen yang sangat jelas terpampang di depan kolom wajah nasional, pencorengan nama baik warga sipil yang dilakukan oleh oknum TNI, tak pernah mendapat sorotan yang seadil-adilnya dari para dewan yang berwenang. Pemerintah tak pernah belajar secara benar dari pengalaman. insiden kebumen bisa terjadi karena TNI selama ini tak pernah sekalipun dihukum. Rakyat kecil terus termarjinalkan.

Kontras, protes keras atas kekerasan militer dalam insiden di kebumen. Kekerasan militer ini mengulang apa yang terjadi di Alas Tlogo, saat itu di Pasuruan TNI menembak dan menewaskan warga sipil. Kasus itu pun tak jelas pertanggung jawaban hukumnya. Pemerintah, DPR, dan pengadilan tak memiliki pemerintah untuk menindak lanjuti.
Hal ini berdampak pada kesejahteraan masyarakat non-militer yang sebagian besar adalah penduduk yang kurang mampu, hampir setiap hari, masyarakat miskin ini selalu teraniaya oleh kerasnya kehidupan. Namun, apa arti sebenarnya kemiskinan itu ?, Secara harfiah, kemiskinan berasal dari kata dasar miskin yang artinya tidak berharta-benda (Poerwadarminta, 1976). Dalam pengertian yang lebih luas, kemiskinan dapat dikonotasikan sebagai suatu kondisi ketidakmampuan baik secara individu, keluarga, maupun kelompok sehingga kondisi ini rentan terhadap timbulnya permasalahan sosial yang lain.

Kemiskinan dipandang sebagai kondisi seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan yang tidak terpenuhi hak-hak dasarnya secara layak untuk menempuh dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Dengan demikian, kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidak mampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan pemenuhan hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang, dalam menjalani kehidupan secara bermartabat.

Dari berbagai sudut pandang tentang pengertian kemiskinan, pada dasarnya bentuk kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi tiga pengertian, yaitu: Hidup miskin bukan hanya berarti hidup di dalam kondisi kekurangan sandang, pangan, dan papan. Akan tetapi, kemiskinan juga berarti akses yang rendah dalam sumber daya dan aset produktif untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan hidup, antara lain: ilmu pengetahuan, informasi, teknologi, dan modal.
1.      Kemiskinan Absolut. Seseorang dikategorikan termasuk ke dalam golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan, sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan.
2.      Kemiskinan Relatif. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan tetapi masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.
3.      Kemiskinan Kultural. Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.

Keluarga miskin adalah pelaku yang berperan sepenuhnya untuk menetapkan tujuan, mengendalikan sumber daya, dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya. Ada tiga potensi yang perlu diamati dari keluarga miskin yaitu:
1.      Kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar, contohnya dapat dilihat dari aspek pengeluaran keluarga, kemampuan menjangkau tingkat pendidikan dasar formal yang ditamatkan, dan kemampuan menjangkau perlindungan dasar.
2.      Kemampuan dalam melakukan peran sosial akan dilihat dari kegiatan utama dalam mencari nafkah, peran dalam bidang pendidikan, peran dalam bidang perlindungan, dan peran dalam bidang kemasyarakatan.
3.      Kemampuan dalam menghadapi permasalahan dapat dilihat dari upaya yang dilakukan sebuah keluarga untuk menghindar dan mempertahankan diri dari tekanan ekonomi dan non ekonomi.       
  
Kemiskinan merupakan masalah yang ditandai oleh berbagai hal antara lain rendahnya kualitas hidup penduduk, terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, terbatasnya dan rendahnya mutu layanan kesehatan, gizi anak, dan rendahnya mutu layanan pendidikan. Selama ini berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi kemiskinan melalui penyediaan kebutuhan pangan, layanan kesehatan dan pendidikan, perluasan kesempatan kerja dan sebagainya.
Berbagai upaya tersebut telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin dari 54,2 juta (40.1%) pada tahun 1976 menjadi 22,5 juta (11.3%) pada tahun 1996. Namun, dengan terjadinya krisis ekonomi sejak Juli 1997 dan berbagai bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami pada Desember 2004 membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat, yaitu melemahnya kegiatan ekonomi, memburuknya pelayanan kesehatan dan pendidikan, memburuknya kondisi sarana umum sehingga mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk miskin menjadi 47,9 juta (23.4%) pada tahun 1999. Kemudian pada 5 tahun terakhir terlihat penurunan tingkat kemiskinan secara terus menerus dan perlahan-lahan sampai mencapai 36,1 juta (16.7%)
Banyak cara-cara yang digadang-gadang pemerintah untuk memeberantas kemiskinan ini, salah satu yang diharapkan adalah dengan memberikan bantuan langsung tunai ( BLT ) kepada masyarakat langsung, namun apa daya ? para tikus-tikus kantor yang berseragam bak seorang presiden, telah merongrong harta rakyat yang bukan haknya, hal ini berakibat banyaknya kriminalitas yang terjadi di Negara ini. Namun sayang seribu sayang, hukuman yang diberikan hakim terhadap masyarakat biasa , terlampau jauh dengan para tikus-tikus got, yang berpenampilan wahh tersebut. Bayangkan sajalah, kepada seorang “Gentho” ayam saja, yang harganya tidak seberapa, mendapatkan hukuman belasan tahun penjara, lebih parah lagi, seseorang pemuda, yang difitnah mencuri sandal, padahal sudah jelas bahwa sandal tersebut tiada yang punya, harus berurusan dengan para hakim munafik, yang hanya berpihak kepada sang pemegang saham terbesar dari beberapa orang yang menyuapnya. Sungguh sangat disayangkan, ini kontras dengan para pejabat busuk, yang setiap harinya entah berapa puluh, atau bahkan ratusan juta yang mereka curi dari Negara, namun apa hukumannya ? “hanya” penjara kecil dengan ukuran 7x10m yang mereka dapatkan, itupun dengan fasilitas yang menurut mereka “sangat terbatas”. Kamar penjara ber AC dengan TV 32 inci “saja”. Sungguh biadab !!
Para DPR yang mereka pilih dengan sepenuh hati, malah seakan-akan ingin membunuh mereka dengan cara yang halus. Para pejabat yang seharusnya menjadi pembela, perintis perjuangan, serta perwakilan dari mereka, malah menjadi pemeras rakyat itu sendiri.

Zaman “Gemblung” memang sudah siap menghajar kita, seakan tak lepas dari ramalan prabu Jayabaya , raja diraja dari kerajaan Kediri.
1.      Sekilan bumi dipajeki ( sejengkal tanah berpajak )
2.      Akeh janji ora ditetepi ( banyak janji di ingkari )
3.      Keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe ( banyak yang berani melanggar sumpah )
4.      Akeh menungso mung ngutamakke harta ( banyak orang hanya mengutamakan harta)
5.      Sanak lali kadhang ( banyak ornag lupa asalnya )
6.      Ukuman ratu ora adhil ( hukuman penguasa tak setimpal )
7.      Kana-kene saya angkara ( disana-sini banyak terjadi kemungkaran )
8.      Sing weruh kebubuhan ( yang mengetahui kebohongan, terbebani )
9.      Pamerasan saya ndadra ( pemerasan yang merajalela )
10.  Prikamanungsan di iles-iles ( prikemanusiaan di injak-injak )

Itulah gambaran umum yang tejadi dimasa kini, dimana kehidupan masyarakat kecil harus terlunta-lunta karena perjuangan hidupnya yang tidak dipikirkan oleh para pejabat tinggi, sedangkan keserakahan para penguasa yang lupa, bahwa mereka dahulu juga dari rakyat biasa, seakan kacang yang lupa akan kulitnya.


KETIKA DUNIA BERPALING DARI RAKYAT KECIL

Negara masih membiarkan anak-anak miskin menderita karena bekerja terpaksa, bodoh, sakit, kelaparan, dilacurkan, mengalami kekerasan,  meminta-minta, ngamen, dan mati di jalan.
 Fakta yang kita saksikan setiap hari berlangsung lama. Fakta itu menunjukkan lemahnya perlindungan negara terhadap hak-hak anak-anak miskin di Indonesia. Bahkan lebih dari itu, negara terkesan melepas tanggung jawab dari kondisi memprihatinkan yang dialami anak-anak miskin. 

Harus disadari, tidak ada satu pun persoalan anak lepas dari tanggung jawab negara. Persoalan di wilayah domestik sekali pun. Negara berperan dalam melindungi hak-hak anak-anak miskin di mana pun berada.

Yang seringkali terjadi, pemerintah memroyeksikan pengingkaran perlindungan anak miskin kepada orang tua. Anak menjadi tanggung jawab orang tua dan keluarga semata. Sedangkan pemerintah hanya memosisikan sebagai mediator aksesbilitas sumber daya. Tanpa berupaya keras memberikan perlindungan atas keadaan Kusniah yang ditinggal mati ayahnya karena tidak mampu berobat dengan biaya yang mahal dan ditinggal ibunya bekerja sebagai TKW dengan ketidakjelasan nasib. Anak yang berpotensi cerdas akademik, harus bekerja keras di jalan mencari uang dan meninggalkan bangku sekolah. Atau anak-anak miskin lain yang dilacurkan demi mendapatkan uang.

Terlantarnya anak-anak miskin bukan hanya menjadi tanggung jawab orang tuanya. Tetapi juga tanggung jawab negara dalam menjamin kesejahteraan anak sebagai warga negara.
Negara harus mengakui bahwa tiap anak mempunyai hak yang melekat atas kehidupan. Oleh karena itu, negara harus menjamin jangkauan semaksimal mungkin perlindungan, ketahanan, dan perkembangan anak.

Bagaimana pun, negara bertanggung jawab atas penderitaan anak-anak miskin meskipun salah satu dari mereka bukan anak kandung dari salah satu birokrat yang bekerja untuk negara.

Begitu pula dengan orang tua anak-anak miskin tersebut. Mereka sudah bersusah payah mencari uang. Pasti mereka juga masih perlu bantuan dari pemerintah.

Perjuangan mereka sungguh luar biasa.
Lihatlah rakyat miskin yang ada disekitar kalian, begitu berat dalam mencari uang untuk mengisi perut mereka. Contohnya seorang pedagang jamu.  Ia menggendong dagangannya yang begitu berat dan berjalan sepanjang jalan cuma untuk mencari pelanggan. Betapa berat dagangannya itu, tapi ia tetap kuat, tetap berjuang mencari uang untuk bisa makan walau cuma sesuap nasi.
Dari kehidupan itu saja para pejabat tinggi tidak menghiraukannya.

Seharusnya Negara bertanggung jawab terhadap rakyat kecil.

0 komentar:

Poskan Komentar